» PROFILE
» CERITA
» AGENDA
» PROSES
» GALLERY
» CONTACT US
 
Makam Raja-raja Mataram  
oleh : Pak Dukuh   Ibu-ibu Bimasakti sedang berziarah di Makam Giriloyo

 

 
     

Menurut cerita lisan, ketika Sultan Agung berada di tanah Mekah, ia melemparkan sebongkah tanah ke pulau Jawa. Setelah kembali di pulau Jawa Sultan mencari jatuhnya tanah yang dilemparkan itu dengan cara bertapa di bukit Makbul. Sultan melihat, ada tempat yang bersinar, lalu dihampiri tempat tersebut dan tanah yang dilemparkan ternyata ditemukan di tempat itu, di Giriloyo. Sultan kemudian bermaksud membangun tempat itu untuk pemakamannya.

Ketika Sultan Agung mulai membangun pemakaman tersebut, sang paman ikut melihat tempatnya. Sang paman lalu mengutarakan niatnya kepada Sultan, supaya dia juga diperbolehkan dimakamkan di tempat itu jika nanti meninggal. Ternyata tidak lama setelah itu sang paman benar-benar meninggal, lalu dimakamkan di situ.

Sultan Agung sendiri lalu mencari lagi tempat lain untuk pemakaman, dan menemukan Imogiri, yang akhirnya menjadi makam raja-raja Yogyakarta sekaligus Surakarta. Tapi, makam Giriloyo sebenarnya lebih tua dari makam Imogiri. Orang-orang yang memiliki daya pengetahuan tinggi mampu melihat, sebenarnya makam Giriloyo memiliki tingkatan spiritual yang lebih tinggi di banding makam Imogiri. Jiwa Sultan Agung yang sebenarnya ada di Giriloyo, sementara makam Imogiri itu sebagai pendoponya, tempat membumikan jasadnya. Demikianlah singkat ceritanya, tapi benar tidaknya Tuhan yang Maha Tahu.***

 
       
 
 
Copyright 2008, Bimasakti