Bu Wartin
 
     
 
» PROFILE
» CERITA
» AGENDA
» PROSES
» GALLERY
» CONTACT US
 

next>

PROSES BATIK BIMASAKTI

oleh : BU WARTIN

 

 
     

Saya biasa membatik halus. Kalau Bimasakti mendapat pesanan biasanya yang menggarap saya, Bu Harti, atau Bu Farid. Dan membatik halus membutuhkan waktu yang lama. Kalau memanfaatkan waktu luang saja, bisa memakan waktu sampai sebulan. Tapi kalau intensif, bisa seminggu atau dua minggu, tergantung kerumitan motifnya. Batik yang kasar tentu lebih cepat membuatnya, sekitar tiga hari saja sudah bisa selesai. Tapi harganya murah karena kualitasnya tidak baik.

Sebelum membatik, kain dicuci dulu supaya kanjinya bersih. Setelah dicuci dikemplong, supaya serat kainnya halus dan rapat, dan supaya bagus pula hasil batiknya. Tapi sekarang sudah jarang yang melakukan proses 'ngemplong' itu.

Setelah itu baru kemudian mulai membuat pola. Caranya, pola yang ada di kertas ditempelkan di bawah kain. Saya membatik mengikuti pola tersebut. Pola sifatnya garis besar saja.

Setelah pola selesai kemudian memberikan ornamen. Istilahnya di sini pepakan atau isen-isen. Sampai merata semuanya. Setelah selesai diteruskan dengan nglowongi.'Nglowongi' adalah proses menebali baliknya supaya hasil batik bolak-balik kualitasnya bagus.

Setelah 'nglowongi' selesai, kemudian dicecek. 'Cecek' merupakan proses batik yang memberikan detail garis atau bidang dengan titik-titik. Proses ini cukup rumit karena kecil-kecil dan banyak, sehingga harus bersabar.

Setelah itu baru ditembok, yaitu memberi blok 'malam' pada bidang-bidang yang perlu warna tebal atau lebar. Kadang-kadang suatu motif perlu variasi, sehingga tidak ditembok semua, tapi ada pula yang disungut. Jadi, ada tembokan dan ada pula sungutan, sehingga terbentuk sebuah komposisi.

Setelah ditembok atau disungut, akan kelihatan ruang-ruang yang tersisa. Ruang-ruang tersebut perlu untuk didetail lagi dengan teknik dan bentuk yang bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan dan juga selera. Misalnya: cantel, cecek gembel, kembang pacar, gabah sinawur, dan banyak lagi, yang menjadi pelataran atau latarbelakangnya.

Sampai di sini tahap membatik selesai, yang lalu dilanjutkan dengan proses mewarna.

Proses mewarna yang pertama adalah wedel, atau warna dasar hitam. Setelah selesai dilorot dan dikeringkan, bentuk-bentuk batikan mulai kelihatan dalam dua warna, yaitu hitam putih.

Tidak langsung diwarna lagi karena cecekan yang kecil-kecil perlu dirining atau dibironi dulu dengan membubuhkan 'malam', mengambil warna putihnya, sehingga tidak kemasukan warna selanjutnya. Baru setelah itu diwarna lagi dengan warna soga. Warna soga ini warna yang terakhir. Setelah dilorot dan dikeringkan batik sudah jadi.***

 
       
 
 
Copyright 2008, Bimasakti